Jumat, 15 September 2023

Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan melalui Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UPSA)

Kegiatan pertanian lahan kering yang tidak memperhatikan tindakan konservasi tanah dan air telah begitu banyak menimbulkan masalah seperti adanya penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. 
 
UPSA adalah merupakan Usaha Tani Konservasi pada sebidang lahan kering yang dipergunakan sebagai tempat untuk memperagakan teknik teknik konservasi tanadan air  yanantara lain  pembuata teras dan saluran pembuangan air serta intensifikasi usaha tani yang baik dengan memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan yang bersangkutan.

Pengelolaan lahan yang tidak bijaksana sering menjadi penyebab meluasnya lahan kritis, terjadi erosi, banjir dan kekeringan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2023 akan meningkatkan upaya rehabilitasi  hutan dan lahan secara komprehensif  untuk mempercepat penanganan  kondisi DAS Grindulu melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Program kegiatan ini meliputi upaya rehabilitasi hutan dan lahan dengan melaksanakan metode konservasi tanah dan air dengan kegiatan sipil teknis, vegetatif, dan agronomi, berupa kegiatan pembuatan / perbaikan teras dan saluran pembuangan air serta penanaman pohon. Penyelenggaraan program ini dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat. Kegiatan ini di laksanakan di Desa Sambong Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Tahun anggaran 2023

Maksud pelaksanaaKegiatan Usaha Pengelolaan Sumber Daya Alam (UPSA) ini adalah Kegiatan Usaha Pengelolaan dalam lingkup wilayah kerja BPDAS Solo tahun 2023 di Kabupaten Pacitan yang realistis dan mudah dilaksanakan di lapangan yang memperhatikan situasi dan kondisi setempat
Hasil identifikasi dan pengukuran calon lokasi Usaha Pengelolaan Sumber Daya Alam (UPSA) menunjukkan bahwa lokasi tersebut berada di Blok Sengon, Desa Sambong, Kec. Pacitan Kab. Pacitan, berupa pertanian lahan kering (tegal) seluas 10 ha. Jenis komoditi yang ditanam antara lain : sengon dan alpukat serta tanaman semusim berupa kacang tanah




Salah satu cara pelestarian lingkungan alam adalah dengan pembangunan berkelanjutan
Dalam kehidupan manusia, mereka membutuhkan banyak hal guna mencukupi kehidupan. Salah satu yang menjadi penyumbang terbesar bagi kelangsungan hidup manusia adalah sumber daya alam yang melimpah, 
Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan untuk melestarikan alam:

1. Cara menjaga kelestarian sumber daya alam hayati

  • menanam lebih banyak pohon
  • melestarikan tumbuhan serta hewan-hewan langka
  • merawat dan menjaga hutan yang mempunyai banyak pohon untuk kehidupan
  • melakukan tebang pilih dan tidak membakar hutan demi membuka lahan
  • memberikan makan secara rutin kepada hewan yang diternak

2. Cara menjaga kelestarian sumber daya alam non hayati

  • memakai kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi guna mengurangi polusi udara
  • menghemat penggunaan air
  • tidak melakukan eksploitasi terhadap sumber daya tambang (minyak bumi, batu bara, emas)
  • tidak mencemari lingkungan dengan membuang limbah ke sungai atau laut
  • melakukan penambangan pada tempat yang tepat, yang telah ditentukan untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan sesama serta kelestarian alam.

Itulah berbagai hal mulai dari pengertian sumber daya alam sampai dengan cara untuk melestarikannya. Seperti yang telah disebutkan di atas, ada banyak macam sumber daya alam beserta contohnya.

Baik yang hayati maupun non hayati sangatlah penting untuk dilestarikan. Sebab jika SDA yang dimiliki habis, manusia pun akan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Untuk memahami lebih jauh tentang Sumber Daya AlamDari berbagai pengertian yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam yakni segala macam hal yang berasal dari alam yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan mensejahterakan kehidupan. Sebagai sebuah ekosistem, maka sumber daya alam ini wajib untuk dilestarikan. 

Pemanfaatan dan pengelolaan nya juga perlu dilakukan dengan baik agar dapat menunjang keberlangsungan hidup manusia secara optimal. Jadi, penting untuk selalu mengadakan perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pengawasan SDA yang terpadu.
Salam Lestari !!!











Jumat, 14 Juli 2023

TEKNIK PEMBIBITAN MANGROVE             



Pembuatan Bedeng                                                                                                                 Tahap pertama dalam penanaman mangrove yaitu pembuatan bedeng. Lokasi pembuatan bedeng, dipilih yang berdekatan dengan lokasi penanaman mangrove. Hal ini, bertujuan untuk mempermudah distribusi bibit mangrove pada saat penanaman. Selain itu, harus diperhatikan juga tentang kondisi lingkungan, seperti tipe pasang surut di lokasi bedeng. Informasi mengenai kondisi pasang surut yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga sirkulasi air dan mengenali pola penggenangan di bedeng. Mengingat pembangunan bedeng sangat tergantung dengan pasang surut, maka suatu lokasi yang tidak memiliki pola sirkulasi pasang surut yang baik, sudah seharusnya tidak dipilih sebagai lokasi peletakan bedeng.

Perlakuan Benih                                                                                                                            Setelah diambil dari sumbernya, buah mangrove kemudian diletakkan di tempat yang terlindung. Buah mangrove bisa diletakkan sementara di bedeng atau di pohon indukannya. Bibit mangrove kemudian diberikan perlakuan sedemikian rupa sehingga pada saat disemaikan bisa mencapai ketahanan hidup yang maksimal. Secara sederhana, buah mangrove yang ditemukan di lapangan biasanya terdiri dari dua tipe, yaitu tipe propagul dan tipe buah bulat. Tipe propagul berbentuk bulat – lonjong – memanjang dan tipe buah bulat berbentuk bulat dengan variasi bulat lancip seperti pada jenis Avicennia spp dan bulat penuh yang terdepat pada Sonnerita spp. Kedua tipe benih mangrove ini mendapatkan perlakuan yang sama setelah dipetik dari lapangan, yaitu direndam kurang lebih dua hari atau menyesuaikan dengan jarak waktu antara pembibitan dan penanaman, sebelum kemudian disemaikan di bedeng.              Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, Kristal –kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih                          Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi baik ke dalam sedimen dengan kedalaman yang cukup.Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan benih – benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah distribusi pada saat pengambilannya di tahap penanaman mangrove.

Pembibitan        




                                                                                                                        Selanjutnya, lumpur yang digunakan pada tahap pembibitan ini, sebaiknyadiambil dari sekitar lokasi penanaman. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketahananhidup benih sewaktu pembibitan. Bedeng persemaian yang dipergunakan bisa disesuaikan dengan tiga buah jenisbedeng yang ada diatas.Tahap pembibitan dilakukan setelah tahap perlakuan bibit selesai. Pembibitan dilakukan dengan cara sebagai berikut :               
1. Ambil polybag, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng. 
2. Isi poly bag dengan sedimen, tetapi jangan terlalu penuh melainkan 3/4 dari isi poly bag 
3. Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, kristal - kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih mangrove 
4. Selanjutnya, tanam benih magrove yang telah dipilih dan berkondisi baek ke dalam sedimen dengan kedalaman yang cukup.
5. Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia ke dalam polybag kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera kedalam polybag yang berukuran besar. 
6. Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan benih-benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaeknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah distribusi pada saat pengambilannya di tahap penaanaman mangrove

Di Indonesia ada sekitar 75 spesies mangrove. Beberapa jenisnya yang mudah ditemui adalah api-api (Avicennia), pedada (Sonneratia), bakau (Rhizophora) dan tanjang (Bruguiera). Berikut ini adalah langkah melaksanakan pembibitan.


Pengambilan Buah

Gambar 2. Buah Mangrove
Gambar Buah Mangrove

Gambar (a) bakau besar/laki (R. mucronata), (b) tumu/ tanjang/bius (B. gymnorrhiza), (c) bakau kecil/bini (R. apiculata), (d) api-api (Avicennia sp.), (e) pedada (Sonneratia sp.).
Bagian buah atau propagul diambil dari mangrove yang berumur delapan hingga sepuluh tahun. Buah yang baik adalah buah yang bebas dari serangan hama. Ciri-ciri buah api-api yang digunakan, yaitu berwarna putih kekuningan dan kulit buah sedikit mengelupas. api-api (A. alba) berwarna coklat kekuningan. Buah prepat (Sonneratia alba) berwarna hijau tua dan pedada (S. caseolarist) berwarna kekuning-kuningan. Buah disimpan dalam ember berisi air agar terjaga kesegarannya selama 1-2 hari. Serta jauhkan dari terik sinar matahari.

Penanaman Buah

Sebelumnya disiapkan polybag berukuran 15 x 20 cm. Kemudian dimasukkan lumpur sebanyak 2/3 bagian polybag. Pada tiap polybag dimasukkan masing-masing satu benih (buah) mangrove. Lakukan perawatan hingga benih berumur 3-4 bulan.

Banyaknya tanaman mangrove yang mati pada tahap pembibitan baik yang disebabkan oleh faktor alam seperti hama serangga. 

Persentase ketidakberhasilan pembibitan mangrove disebabkan oleh faktor alam seperti hama serangga sangat besar. Hal tersebut disebabkan sulit pencegahan dan penanggulangannya. Karena informasi data mengenai jenis hama serangga pada kawasan pembibitan sangat dibutuhkan untuk menganalisa keberhasilan program pembibitan

SALAM  LESTARI ... !!

Senin, 19 Juni 2023

PELAKSANAAN PEMBANGUNAN GULLY PLUG SEBAGAI UPAYA REHABILITASI LAHAN.

Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam segingga bahaya tanah longsor dapat dihindarkan. 
Untuk mengatasi erosi pada aliran sungai kecil, kegiatan pembangunan gully plug telah terealisasi atau sedang berjalan. Sedikitnya terdapat lima lokasi  pembangunan gully plug yang sudah jadi dari rencana sekitar 39 titik yg direncanakan, saat ini yang sudah jadi pada aliran sungai kecil di Blok Dusun Sengon Desa Sambong Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan 
Lima  titik dan lainnya tersebut memang masuk dalam kawasan yang rawan Sebab secara geografis merupakan wilayah perbukitan dengan lereng lebih curam. lima lokasi tersebut juga telah sudah mendapatkan survei oleh pihak terkait. Di antaranya dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Solo  (BPDAS HL SOLO)  dan Penyuluh Kehutanan. Gully plug dan juga berfungsi sebagai penghambat aliran air sehingga mengurangi erosi dan sedimentasi di bagian hilir. Pelaksana kegiatan adalah Kelompok Tani Hutan Jati Nom  yang sudah mengajukan proposal yang lokasinya memenuhi syarat teknis pada kegiatan tersebut. Kegiatan ini  di rencanakan rampung pada akhir Juli 2023.






Terjadinya erosi lahan yang disebut dengan erosi parit/jurang (gully erosion) dapat menimbulkan kelongsoran dalam jumlah yang besar pada lahan dan tebing tebing sungai. Salah satu bangunan konservasi terhadap lahan yang dapat mencegah dan mengendalikan erosi parit/ jurang (gully erosion) adalah bangunan gully plug yang seharusnya mulai lebih banyak dibuat pada lahan-lahan yang sering mengalami erosi, sehingga konservasi tanah dan air pada lahan bisa tetap terjaga dan terpelihara. laju erosi sangat dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan, kemiringan lereng, erosivitas hujan, jenis tanah, dan manajemen penanaman serta konservasi lahannya. Sehingga dampak dari erosi dapat terdeteksi dengan banyaknya laju sedimen (Sediment Yield) yang terbawa dan terendapkan


SALAM LESTARI ...!



Senin, 29 Mei 2023

Konservasi Tanah dan Air dengan Gully Plug

Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah hutan yang membentang luas dengan aneka hasil di dalamnya. Hewan, tumbuhan, dan semua yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sebagai kekayaan yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, maka selayaknya untuk melindungi hutan dari berbagai ancaman mulai dari pembakaran, penggundulan, dan longsor. Salah satu upaya untuk melindungi dari ancaman longsor adalah dengan membuat Gully Plug

Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam sehingga bahaya tanah longsor dapat dihindarkan

Gully Plug bisa disebut sebagai pengendali jurang. Keberadaan Gully Plug bisa membantu untuk mencegah hutan dari ancaman longsor dan sebagainya. Jadi Gully Plug ini tidak hanya untuk sungai, tetapi juga bisa digunakan untuk perlindungan hutan.

Dengan kata lain Tujuan dibangunnya gully plug yaitu untuk memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang yang semakin besar sehingga erosi dan proses sedimentasi terkendali

Oleh karena itu maka pembangunan Gully Plug tentu sangatlah penting untuk menjaga agar kondisi lahan tetap terjaga. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun gully plug yaitu :

a) Lahan dengan kemiringan 30%

b) Daerah dikategorikan sebagai lahan kritis

c) Daerah tangkapan air minimum 10 hektare

d) Lebar kedalaman parit/jurang sebesar 3x3 meter

e) Panjang parit/jurang sebesar 250 meter

f) Kemiringan parit/jurang sebesar 5%




Gully Plug sendiri terdiri dari berbagai macam. Tergantung lokasi dan bahan yang digunkana. Berikut beberapa tipe Gully Plug yang sering digunakan di Indonesia. 


Tipe Batu Bronjong Berikut adalah gambar rencana Gully Plug, dengan ukuran Tinggi= 2 meter; Lebar = 5 meter

                                    a. Tipe Batu   (source:google)

                                b. Tipe batu bronjong dengan sayap

 
                                 c) Pasangan batu spesi


                                   d) Tipe Bambu (bio gully plug)

Tipe Gully Plug di atas tentunya juga berdasarkan kondisi tanah, tidak semua kondisi bisa menggunakan gully plug. Pembangunan gully plug harus memenuhi persyaratan teknis seperti yang tercantum pada Peraturan Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Nomor P.6/PDASHL/SET/KUM.1/8/2017 tentang Petunjuk Teknis Bangunan Konservasi Tanah dan Air.

 

Persyaratan teknis lokasi gully plug antara lain:

1. Kemiringan DTA > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;

2. Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;

3. Luas DTA 1 - 5 ha; 

4. Kemiringan alur ≤10%;

5. Tingkat erosi dan sedimentasi yang tinggi dan mampu menampung aliran permukaan yang besar; dan/atau

6. Merupakan lokasi penanganan dampak bencana alam

 

Gully Plug merupakan salah satu cara untuk melindungi hutan. Namun secara keseluruhan, Gully Plug memiliki banyak manfaat. Berikut diatara manfaat dari Gully Plug.


a) Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit

b) Mencegah bertambah luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya jurang/parit yang semakin lebar

c) Mengendalikan erosi dan lumpur, endapan, serta air dari daerah atas sehingga dapat mengendalikan hilir dari sedimentasi dan banjir

d) Memperbaiki kondisi tata air di sekitarnya

 

Gully Plug sendiri sudah di atur oleh pemerintah baik kriteria tanah, tipe, pemanfaatannya. Beberapa Peraturan mulai dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai peraturan Gubernur ada yang membahas.



Salam Lestari ...!

Sabtu, 15 April 2023

 MENGENAL AGROFORESTRY

Agroforestry adalah teknik pertanaman yang memadukan tanaman kayu yang berumur panjang dengan tanaman pertanian (palawija), peternakan atau perikanan di dalam atau di luar kawasan hutan, yang secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama, dengan memperhatikan kearifan lokal. 

Agroforestry memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap jasa lingkungan (environmental services) antara lain mempertahankan fungsi hutan dalam mendukung DAS (daerah aliran sungai), mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, dan mempertahankan keanekaragaman hayati

Contoh sistem agroforestri adalah agrisilvikultur, silvopastura, agrosilvopastura. seperti tanaman lorong (alley cropping), tumpangsari (taungya) dan lain-lain. 

di Jawa adalah praktek agroforestri pada sistem produksi pertanian. Sedangkan kelebihan dari agroforetry itu sendiri adalah menanam berbagai jenis pohon di antaranya atau di sekitar tanaman pangan yang telah lama terbukti lebih beragam, produktif dan menguntungkan. Keuntungan lain yaitu membantu melindungi lingkungan dengan mencegah erosi tanah dan mengurangi ketergantungan pada hutan

Agroforestry dapat mendukung program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim karena kemampuannya dalam menyerap karbon serta menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya, agroforestri merupakan teknologi budidaya tanaman dan sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim. Sistem ini menurunkan intensitas cahaya dan suhu, meningkatkan oksigen, meningkatkan kelembapan, meningkatkan kesuburan tanah dan ketersediaan air, oleh peran pohon.




Dalam mewujudkan sasaran ini, agroforestri diharapkan lebih banyak memanfaatkan tenaga ataupun sumber daya sendiri (internal) dibandingkan sumber-sumber dari luar. Di samping itu agroforestri diharapkan dapat meningkatkan daya dukung ekologi manusia, khususnya di daerah pedesaan. Untuk daerah tropis, beberapa masalah (ekonomi dan ekologi) berikut menjadi mandat agroforestri dalam pemecahannya

Yuk sobat simak informasi seputar Agroforestry lainnya
Salam Lestari ... !



USAHA PELESTARIAN SUMBERDAYA ALAM di DESA SAMBONG KECAMATAN PACITAN Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam (UPSA) adalah  merupakan salah satu mo...